-Be-

(270708)

Hari ini saya dapet satu pandangan berbeda lagi yang kalau saya mau, saya bisa katakana sebagai ‘sebuah padangan yang aneh’. Well, tapi walaupun begitu, saya pengen mencoba menelaah dulu pandangan yang satu ini. Kira-kira begini bunyinya…

‘Pacaran itu bisa mengubah karakter seseorang. Bisa membuat orang itu belajar untuk menghargai orang lain.’

Well, saya setuju sampai bagian ‘mengubah karakter seseorang’ itu. Karena, yeah, dari beberapa orang yang saya kenal sebelum pacaran dan kemudian mereka tiba-tiba pacaran, saya memang menemukan beberapa perubahan. Sangat significant malah. Seperti: mereka tiba-tiba pandai membagi waktu. Tapi sayangnya, pembagiannya saya pikir sangat tidak proporsional. Yeha, mungkin proporsi ‘bersenang-senang’ dengan the beloved one-nya tidak banyak banyak amat. Tapi proporsi waktu yang dipergunakan untuk memikirkan si the beloved one-nya sepertinya menjadi sangat dominan. Bagi saya, hal ini bakal jadi sesuatu yang sangat cukup untuk menjadi barrier untuk melakukan sesuatu. Entahlah bagi yang lain. Teman saya juga pernah berkata bahwa satu orang tidak mungkin memiliki dua tuan. Orang yang pacaran tidak mungkin berhasil membagi waktunya secara merata bagi kegiatan pacarannya, kegiatan sosialisasinya dengan teman-temannya, dan kegiatan serius yang benar-benar dibutuhkannya. Jadi tentu saja orang yang mulai pacaran akan segera mendapati perubahan-perubahan pada dirinya.

Sekarang kita beralih ke bagian ‘belajar menghargai orang lain’. Saya masih bisa menerima kalau pandangan ini berlaku bagi beberapa orang. Harap diperhatikan juga garis bawah pada kata ‘beberapa orang’. Tanya kenapa? Karena beberapa orang lain yang sudah pernah atau sedang pacaran terbukti dengan suksesnya mampu menumbuhkan keinginan saya kembali untuk berlatih kick boxing (Tahu kan, sport seperti boxing tapi memperbolehkan kicking. Dan kick boxing itu seru banget buat pelampiasan amarah.). Yeah, bisa jadi sih pada saat itu saya memang sedang terlalu sensitive atau mungkin PMS. Tapi sejauh yang saya perhatikan, orang-orang yang sedang pacaran malah terlalu memprioritaskan sang pacar. Mungkin mereka memang belajar menghargai orang lain. Tapi orang lain tersebut tidak lain dan tidak bukan hanyalah sang pacar seorang. Memang teman saya (yang berbeda dengan yang memberi pendapat sebelumnya) pernah berkata bahwa ketika orang yang sedang pacaran mampu menghargai pacarnya, hal ini akan menjadi kebiasaan baginya dan mungkin bisa diterapkan di lingkungannya sehari-hari. Jadi kenapa saya masih memperdebatkan hal ini? Karena berdasarkan pengalaman saya, ketika sang pacar tersebut membutuhkan sesuatu, maka kebanyakan orang akan berusaha memenuhinya walaupun salah satu konsekuensinya adalah merugikan orang lain. Di situlah letak kelemahan pacaran dan keterkaitannya dengan proses menghargai orang lain. Harap diingat bahwa orang lain di dunia ini tidak hanya satu, tapi banyak!

Mungkin ini ada kaitannya dengan pepatah ‘banyak jalan menuju Roma’. Sebab menurut pendapat saya sendiri, mampu tidaknya seseorang menghargai orang lain justru bergantung pada sejauh apa orang tersebut berhasil memahami diri sendiri dan sejauh apa dia berusaha untuk memahami berbagai perilaku dan pola pikir orang lain. Sementara selama pacaran, seseorang hanya (mungkin, kalau dia berusaha) akan memahami satu pola pikir dan perilaku tertentu. Masa harus pacaran dengan banyak orang dulu untuk memahami berbagai pola pikir mereka?

Beberapa orang juga pernah berkata bahwa pacaran itu bisa mendewasakan seseorang. Tapi…masa harus pacaran dulu baru bisa dewasa? Akhwat dan ikhwan yang tidak pernah pacaran saja toh bisa dewasa dan menghargai orang lain. Paus dan suster juga tentunya tidak pacaran, kan? Tapi mereka mereka ini, bisa dikatakan, justru lebih dewasa dan lebih mampu menghargai orang lain daripada kebanyakan orang. Iya kan? Kedewasaan sebenarnya tumbuh ketika seseorang sudah berkeinginan untuk menjadi dewasa. Ketika seseorang sudah bisa memaksa dirinya untuk berani melakukan sesuatu yang berbeda dan berani menata pikirannya, membedakan mana yang penting dan mana yang tidak. Kedewasaan sebenarnya bisa muncul ketika seseorang berusaha memahami dunia sekitarnya dan dunia secara keseluruhan dengan sadar. Jadi, tanpa pacaran pun bisa kan? Dengan mengamati mungkin, atau membaca berbagai buku yang cukup ‘berisi’, atau mungkin membantu banyak orang untuk memecahkan persoalannya.

Beberapa orang mungkin mulai berpikir bahwa pada akhirnya, semua orang akan hidup berdua. Tapi yang perlu disoroti lagi adalah ketika dua orang telah menikah, dunia yang dihadapinya sudah berbeda karena ikatan yang ada adalah ikatan yang semua orang mengakuinya. Sebenarnya intinya di sini bukanlah bahwa saya kontra seratus persen terhadap pacaran. Sama sekali bukan walaupun, yeah, perasaan kontra tersebut masih tertanam dalam diri saya beberapa puluh persennya. Yang ingin saya pertegas di sini adalah bahwa pacaran bukanlah cara untuk mencapai aktualisasi diri. Pacaran justru terkadang bisa membuat orang semakin jauh dari aktualisasi diri tersebut. Jadi bagi orang-orang yang merasa masih pacaran, coba introspeksi diri anda. Apakah pacaran sudah merupakan pilihan yang tepat bagi diri dan hidup anda?

28 Comments

  1. ida said,

    July 28, 2008 at 12:28 pm

    woww,,,,
    tulisan yang menarik,,,:p

    q pngen tuch nyobain kick boxing,,,hehhehehe

    hhhhmm,,,”pacaran” hanyalah sebuah pilihan hidup seseorang,,,
    dan,q jd timbul pertanyaan nich,,
    apakah “pacaran” itu suatu kebutuhan???
    kebutuhan tuk sebuah “pendewasaan diri” ????
    Oh my godness,,

    OK girl,,,:)

  2. vivicute said,

    July 28, 2008 at 12:36 pm

    ihihi…
    maen kick boxing bareng yuk, da… (ida?)

  3. hilda said,

    July 28, 2008 at 1:37 pm

    itu ida SIAPA YA???
    heran ah, pendewasaan diri kok ya nunggu pacaran baru bisa dicapai. let’s hv another example. the Pope, dia ga menikah dan dimungkinkan ga pernah pacaran. apakah dia ga dewasa? tentu saja ga. pendewasaan diri kan sebenernya didapet dari masalah2 yg kita hadapi selama hidup dan gimana akhirnya kita belajar untuk menghadapinya dengan baik.

    sama kek mega. bukannya kontra pacaran, tapi kenapa kebanyakan orang menganggap pacaran sbg suatu kewajiban? aneh ya..

  4. tetangga kost-an said,

    July 28, 2008 at 7:13 pm

    assalamu’alaikum Vivicute (cute…?)

    Sepakat ci…Justru alasan yang katanya “…Bisa membuat orang itu belajar untuk menghargai orang lain” bukannya malah sebaliknya ya…mereka memang menghargai pacar mereka (asumsi : pacar yang setia dan tidak mendua), tapi dari sudut pandang yang lain mereka justru jadi EGOIS, demi menyenangkan pasangannya, apa pun dan siapa pun bisa jadi tidak masuk ke pertimbangan orang-orang yang dihargai (pada saat yang sama), orang lain yang dirugikan lebih banyak demi menyenangkan pasangannya. Fakta lain, tida sedikit tindak kriminal/kejahatan/kenakalan terjadi karena ke-EGOIS-an pasangan ini, bukan?Belum lagi mereka yang sudah sampai taraf “…..”, di mana sisi menghargai nya?yang terjadi justru pelecehan satu dengan yang lain…Oh God…

    menurut saya ya ci… kedewasaan sikap dan berfikir itu mengalami akselerasi perkembangan justru saat seseorang dalam keadaan ‘bebas’, karena waktu, pikiran, tenaga, uang yang mereka korbankan untuk pasangan yang belum punya ‘hak’ sebenarnya bisa teralokasikan ke hal lain yang mendukung sosialisasi mereka dengan sekitar lebih optimal (based on my experience sih gitu…). malahan kalo punya pacar nih, jatuhnya bukannya jadi tergantung pada pasangan ya…?padahal sebenarnya kita punya kesempatan untuk melakukannya & menyelesaikannya sendiri kok, itulah pelatihan yang sebenarnya, yang tidak kita dapatkan kalo kita masih punya pacar.

    Dunia belum berakhir tanpa pacar, menjalani ‘kesendirian’ untuk ‘kebersamaan’ yang sesungguhnya JAUH lebih menyenangkan karena kita punya lebih banyak kesempatan untuk mempersiapkan diri kita benar-benar untuk menyambut ‘hadiah terindah’ yang telah Dia siapkan untuk kita. Kalo mau dapet Muhammad, ya siapkan dirimu buat jadi Khadijah, aisyah, dll, begitu juga sebaliknya…Janji-Nya, sungguh pasti Ditepati… ^o^

    Be u’re self, get u’re freedom

  5. chandra said,

    July 28, 2008 at 11:24 pm

    Oke..oke…
    pendapat mba saya setuju tapi ada beberapa yang harus di tla’ah lagi,
    bahwasanya pacaran bukan satu-satunya cara untuk mendewasakan diri,
    kata mba ; anda akan dewasa dengan sendirinya, yakin…..?,
    tp inget dewasa tuh luas..,
    saya setuju dengan dewasa yang tanpa pacaran
    tp itu berlaku untuk seseorang yang mempunyai karakter mandiri, ramah terhadap orang lain,suka menabung and bae dll,
    Tp untuk seseorang yang mempunyai karakter keras,suka marah,bila bicara suka negative thinking tehadap orang lain wah… yang beginini… yang wajib pacaran… Biar dia cepet gede (dewasa dlm menghargai orang lain) ya ga cuy….????
    Apalagi jika seseorang dlm keadaan forever in love alias demen setengah mati eh..diputusin… hatinya sakit bnget…. kaya dicubit gorilla,
    nah orang yang seperti ini nih…. dia akan bangkit dari keterpurukan dan ketika bangkit kdewasaan dia akan muncul karena dia slalu introspeksi diri dari kegagalan yang lalu…

    Kick boxing..???? boleh tuh…. Dimane???? Hayo…..

    “Kesetiaan bukanlah dilihat dari senekad apa
    dia untuk tetap bersama anda, tapi sejauh
    mana anda bersedia untuk menjadi ‘teman’
    suka dukanya?
    Entahlah, apakah cinta itu telah terurai oleh
    tulisanku ini,
    cinta itu hanya bisa aku rasakan dgn
    kebersihan jiwa dan hati dan kontrol emosi.
    satu yg pasti, aku akan tetap memegang
    cinta yg telah aku temukan ini hingga ajal
    tiba ehem…ehem…, tak peduli apa yg akan terjadi
    dgn gadisku, karena dia lah orang yg telah
    membuka mata hati dan jiwa ku, dan
    menyadarkan aku akan makna hidup.
    Hanya dgn cinta lah anda bisa mengerti
    makna hidup ini!” cie…cie…… dalem banget dah….

  6. vivicute said,

    July 29, 2008 at 9:44 am

    hilda: Ida itu anak ibunya. jadi pengen kenalan sama Ida.. hehe… Menurutku sih hil, kebanyakan orang menganggap pacaran itu kebutuhan. Tapi karena mereka ngerasain kebutuhan yang berlebihan, jadilah asumsi bahwa pacararan itu kewajiban

    Tetangga kost-an: SETUJU!!! kalo pengen dapet yang baek, harus memperbaiki diri dulu. jangan nuntut doank. ya ga bu?!

  7. vivicute said,

    July 29, 2008 at 9:53 am

    Chandra: Lha, malah nulis puisi. pada dasarnya sih semua orang bisa dewasa dengan sendirinya. kita itu adalah apa yang kita pikirkan. kalo kita mikir kita udah harus dewasa, maka upaya-upaya pendewasaan bakalan muncul dari dalam diri sendiri. tentang ‘ga bakalan ngerti kalo cuma ngeliat dari dalem’, maksud sy gini. kalo kamu cuma ngeliat dari satu sudut pandang yang sama, sudut pandang orang yang pro pacaran, yang kamu dapet cuma pola pikir mereka doank, dan mungkin cuma bagian yang seneng-senengnya aja. tapi coba memposisikan diri di orang yang ga begitu suka sama pacaran, insyaAllah bakalan dapet hal yang berbeda. (udah ngerti belom?) yah, mungkin pada intinya pacaran itu ada positifnya ada negatifnya ya. yang perlu dicari tahu lagi adalah timbangan positif dan negatifnya itu. mana yang lebih banyak…

  8. cnowi said,

    July 29, 2008 at 9:59 am

    Hi mba, mungkin tulisan tu ada benernya tapi ga semua org bisa seperti itu, karakter dan kebutuhan org tu beda2, ga bisa yg lo anggep baik, baik juga buat org lain……memang pendewasaan diri bukan karena pacaran, bikin aja segudang masalah terutama tt keluarga pasti ga lebih dari 1 minggu usia lo bakal bertambah….(ya iyalah ya). pernah ga sih ngrasa sepi, sendiri (dlm artian bukanfisik) tapi jiwa lo…mgkin byak org kan main atau bincang ma keluarga, tapi saat itu ga da keluarga yg bisa ngertiin qta n jg temen yg punya kesibukan masing-masing…. saat tu lo bakalan butuh sosok yg bs ngertiin n ngontrol diri…..pacaran bukan berarti negatif…n ga smw org pacaran bakal nglakuin smw yg dimw pasangan…

    selama sadar akan prinsip hidup dan pacaran itu bukan untuk memperbudak diri, klo uda ke arah situ, uda kelewatan..

    mungkin gw org yg g sepaham dg pihak yg kontra pacaran n gw tekanin pacaran tu bkan kwajiban……ataupun kebutuhan pokok…..
    semua tergantung lo….
    -peace-

  9. cnowi said,

    July 29, 2008 at 10:14 am

    klo lihat timbangan positif negatifnya, mungkin lo bisa nemuin jawaban sendiri, tapi ga semua org tu bisa di kondisi dimana bukan dia emank pacaran maen film, peran antagonispun ga selalu berhasil….mungkin sekarang lo mikir gitu tapi suatu saat lo uda pacaran, coba peranin aja…ato klo mau qta berperan di antagonis, coba lo berperan….?
    n sifat dasar manusia ga bisa lepas…….n gue yakin meskipun banyak org kontra pacaran, tapi sebenernya mereka kesepian dlm idealisme prinsip mereka sendiri……dan tu bahaya buat kehidupannya sendiri, gmn bahayanya? coba lo cari tw sendiri..pasti nemuin!

  10. vivicute said,

    July 29, 2008 at 10:22 am

    cnowi: cnow (bingung mau manggil apa), gw jg ga sepenuhnya nyalahin pacaran kq. tapi emangnya pacaran itu adalah pilihan?

  11. sugi chou said,

    July 29, 2008 at 2:04 pm

    Assalamu’alaikum Ga..
    Waaah..tentang pacaran ini banyak pendapat sih..
    Kalo boleh berpendapat,, secara umum..pacaran itu bikin capek, lebih banyak nyakitin, n sesungguhnya ga memuaskan (coz, kalo dah jadi suami istri,, baru deh bisa puas, hehe..^_^)

    Makanya,, ari gini ga usah cari pacar..mending cari pasangan hidup..

    hehe

  12. Malinda said,

    July 29, 2008 at 7:23 pm

    ini blog nya Mega kan?
    yeay…
    emang kenapa Mega? Mega mau pacaran ya?
    traktir dong hehe ^_^

  13. July 31, 2008 at 11:21 am

    ck…ck…ck…
    udah gede nih si anak kecil :-)

    terlepas dari pro ‘n kontra masalah pacaran yg dah banyak banget di-comment,
    aku setuju dengan konsep pacaran….

    tapi,

    nikah dulu ya,,, ^_^

    kalo udah gitu,
    pasti mudah kalo:
    mau belajar jadi orang dewasa,
    mau belajar untuk menghargai orang lain,
    mau belajar untuk bisa waktunya,
    sampe mau belajar jadi istri dan ibu yang baik juga bisa :-)

    ok,ok,,,
    mungkin bukan mudah, karena bohong kalo’ pasutri (pasangan suami istri) itu ga’ punya masalah sama sekali,,,
    tapi, setidaknya,
    dengan ikatan yg sudah sah menurut agama dan negara itu, orang akan lebih punya ’sense of belonging’ yg lebih tinggi…

    seorang pasangan akan lebih menghargai pasangannya yg lain tanpa harus mengabaikan orang lain,
    karena dia juga harus berinteraksi dg keluarga dan teman2 pasangannya…

    truz,
    sebenernya kurang setuju dengan ‘mengubah karakter’,
    mungkin lebih tepatnya ‘menemukan karakter’ kali ya…
    karena kalo’ ga’ salah sih (kata orang psikologi), karakter seseorang itu tidak bisa diubah,
    hanya bisa dikurangi atau ditambah porsinya…

    kemudian masalah ‘being mature”…

    bener, bener,
    setuju banget tuh sama vivicute…
    hehe…

    ga’ cuma lewat pacaran aja kok kita bisa jadi dewasa,
    dan ga’ mesti juga orang yang pacaran itu jadi DEWASA…

    banyak kok buktinya,,,
    liat aja orang-orang di sekitar kita :-)

    “Menjadi TUA itu pasti, tapi menjadi DEWASA adalah pilihan”

    so,
    mau menjadi dewasa atau tidak,
    mau pacaran atau nikah dulu baru pacaran,
    itu semua adalah pilihan,,,

    dan ingat,
    setiap pilihan pasti ada konsekuensi yang menyertainya,
    dan itu udah jadi sunnatullah, udah hukum alam…^_^

    jadi,
    selamat memilih…

  14. chandra said,

    July 31, 2008 at 11:28 am

    buat kk sugi….. pacaran bikin cape???? ama lari pg capean mane kk?? he…
    pacaran g memuaskan ??? wah…..!!!! yang beginini….perlu dilestarikan he..
    pengennya sih nyari pasangan hidup… masalahnya………………………,
    oke…oke.. kata cari pacar bakalan saya apus dari otak saya… yang bener cari pasangan hidup… ya…… walaupun nantinya putus juga yg pnting usaha… ya g cuy….

  15. hilda said,

    July 31, 2008 at 2:58 pm

    @chandra:
    hmm, lo bilang orang yg keras, suka marah, dan sering berpikiran negatif itu WAJIB PACARAN biar dewasa, bisa menghargai orang lain. kata siapa? teori lo jelas2 ga valid.
    dari kalimat lo gw menangkap klo itu berlaku untuk SEMUA orang jenis diatas. berarti klo gw menemukan satu aja contoh yg ga begitu a.k.a counter examplenya, teori lo ga bakal berlaku lagi.

    orang yg keras bukan berarti ga dewasa. GW ORANG YG KERAS. gw ga bilang klo gw dewasa, tapi bahkan orang yg keras punya alasan kenapa dia jadi seperti itu. gimana dengan orang yg terlalu banyak masalah hidup dan akhirnya dia jadi orang yg keras? apakah dia ga dewasa? tentu aja ga. paling ga dia punya sedikit kedewasaan yg didapat saat masalah hidupnya berat bgt. dengan lo bilang klo orang yg keras wajib pacaran berarti lo bilang GW WAJIB PACARAN. tau apa lo ttg gw? dari mana lo bisa bilang sesuatu itu wajib buat seseorang dengan hanya mengetahui sangat sedikit informasi ttg orang itu. bukankah disini justru keliatan siapa yg ga dewasa?
    lagian apakah orang yg keras selalu ga menghargai orang lain?? TETOOTTT! anda salah.

    ayo kita bahas statement yg lain. orang yg suka marah emang selalu ga menghargai orang lain? emang sih lo ga bilang begitu. tapi dari bahasa lo itu yg gw dapet. orang suka marah juga banyak latar belakangnya. gimana dengan orang yg gampang khawatir dan akhirnya dia jadi suka marah. ada kan orang kek gitu? jangan bilang ga ada KARENA EMANG ADA ORANG KEK GITU. apakah dia ga menghargai orang lain? o tentu tidak. karena orang yg gw bilang justru sangat menghargai orang lain, bahkan lebih dari kebanyakan orang. dan dia jelas2 dewasa dari yg gw liat. in case u want to prove it, just ask and i’ll show you.

    yg terakhir, orang yg negative thinking. dia ga menghargai orang lain? ah masa. lagian yah, orang yg begitu klo pacaran justru ada yg makin jelek aja pikirannya.

    okok, yah begitulah prove by contradiction gw. jadi gw menolak teori lo. dan gimana klo lo belajar lebih dewasa dengan cara mengurangi kebiasaan lo ngejudge orang dengan sedikit, sangat sedikit informasi kek gitu. sebenernya sih ya, mo lo tau segala sesuatu ttg orang itu, lo GA BOLEH ngejudge dia, apapun alasannya. it’s just soooo wrong.

  16. chandra said,

    July 31, 2008 at 5:41 pm

    salam kenal k’hilda…
    buat kk hilda….
    wah mantap ka.. keren…. pendapatnya…
    tp inget ini hanya pendapat “bukan” teori oke…,
    teori ada dasarnya… pendapat itu semau2 kita tergantung persepsi masing2…., ya g cuy…..
    orang yg keras,suka marah,dan sering berpikiran negatif.. “jngn dipisah”, wajib pacaran itu pendapat saya soalnya dari beberapa Cwe yg saya jumpai..wah…. nyakitin hati kl ngomong, sy bilang wajib pacaran biar ada yg mengarahkn… nah Cwo tsb yg tgsnya mengarahkan…, soalnya tuh Cwe hanya bisa nurut ma yayangny doank…
    nah tugasnya mba hilda mambantah tidak semua Cwe sprti itu, fine… bgs pendapat k’hilda sy setuju….
    dari awal saya udah mengatakan dewasa tuh luas… yg saya bahas dlm “menghargai orang lain” apa seseorang bisa menilai diri sendiri? apakah saya udah bisa menghargai orang lain? hanya orang lain lah yg dpt menilai kita. (bener g sih…..? )
    kl arti dewasa secara luas; semua orang dpt dewasa dg caranya “masing2″, orang mendapatkan kekayaan aja dg cara masing msing.. y g cuy…dan kedewasaan seseorang belum ada ukuranya hanya bisa dilihat dari tingkah laku seseorang…(misalny: bs dr cara menyelesaikan masalahny, cara bicara, cara bergaul..dll).inget…hanya orang lain yg bisa menentukan,dewasa tidaknya kita…
    maaf…satu poin penting jngan pernah mengatakan dia “g” dewasa……
    yang bener “kurang dewasa” hargailah orang lain(mulut itu lebih tajam dr pisau) oke..oke… PIZZZZ……^_^
    ati2 kk hilda galak…..he…. kan k’hilda tadi yg bilang k’hilda tuh glak..
    inget ya kk ini hanya “pendapat” oce….
    “tau apa lo ttg gw?” emang lo tau siapa gw…..?????
    maaf kl belom kenal ma tuh orang kata2nya yg sopan ya kk…
    maaf jika ada kata yg kurang enak….
    dri kata2 diatas k’hilda dewasa juga ko…. serius….

  17. hilda said,

    July 31, 2008 at 9:34 pm

    thx anyway gw diingetin. gw minta maaf di bagian manapun lo merasa tersinggung. yah,,dari dulu emang dalam hal itu gw masih berjuang mengubah diri gw terus. gw tau lidah itu tajem, tapi yah spt kata gw, that’s where i’m struggling on.

    masih keras kepala sama pendapat gw. maaf nih. tapi karena dsitu lo nulisnya “keras, suka marah, dan ‘apapun itu gw gatau’”, jadi untuk mengatakan pacaran suatu kewajiban, tiga2nya harus bener. kan lo nulisnya koma + dan, bukan atau. jadi sah-sah aja klo gw menganalisa dipisah karena tiga2nya harus bener secara bersamaan, klo satu aja salah ya salah deh smuanya. lagian klo tiga2nya digabung juga belom tentu kan dia seperti apa yg kita pikirkan. masalah biar ada yg mengarahkan sih tetep aja akhirnya bermasalah di kemauan hati si cewek itu. intinya sih ya kek yg kata lo bilang, tiap orang dapet kekayaan dengan cara yg berbeda-beda.

    yg lo tulis emang pendapat, tapi pendapat itu tetep suatu statement. maaf klo sebelumnya gw bilang itu teori, mungkin emang salah, tapi ga juga ah. itu kan jadi teori buat lo. pokoknya, itu adalah statement. lo emang bisa ngomong apapun seenak lo, tapi karena yg lo bilang itu suatu statement, gw juga bisa menyanggahnya dong.

    ttg menilai diri sendiri. gw emang ga bisa menilai diri gw sendiri, sombong banget gw klo gw berani bilang gw itu dewasa dan blah blah yg baik2. emang ujung2nya orang lain yg menilai kita, tapi sih jgn semua kata orang dimasukin ati. jangan juga prinsip ‘be yourself’ dipake kemana-mana dan lo jadi orang yg bebal.

    klo lo masih sakit ati, sekali lagi gw ingetin gw minta maaf. hak lo mo terima ato ga. mo berakhir dengan musuhan sih sebenernya sangat disayangkan karena gw udah punya terlalu banyak musuh (akibat mulut gw juga, tapi mulut mereka juga ga kalah nyebelin dari gw). akhirnya terserah lo. pilihan ada sama lo, lo mau gimana akhirnya masalah ini slese (bahkan klo ini pantes disebut sbg masalah).

    PS:maksudnya nantangin di sms tuh apa yah? gw mo ditantang dalam hal apa? ada gitu yg pantes ditantang dari perdebatan disini? serius lo? klo masalah takut ga takut sih gw ga takut kok. tapi perlu? ngapain lo nambah2in panas ati lo klo lo punya pilihan untuk tidak? mo nantang prinsip hidup-kah? dan tantangannya mo berujung dimana? sampe ada yg menang ato kalah? emang parameter kemenangannya apa? siapa yg duluan speechless? speechless selalu kalah-kah? untuk orang kek gw ga. gw akan tetep keras kepala mempertahankan pendapat gw walaupun gw udah ga bisa ngomong apa2 lagi. that’s all.

  18. masih tetangga kostan said,

    July 31, 2008 at 10:33 pm

    malem vivi…..
    Assalamu’alaikum…

    mau ikut ngomong lagi nih…
    Ga da salahnya bagi pandangan dan ‘pengalaman’, kebetulan dulu pernah mengalami fase itu, dan aku sangat memahami temen-temen yang lagi pada ‘kasmaran’ kena virus merah jambu… dulu, aku berpikir, kayaknya dunia gelap dan bumi berhenti berputar kalo aku sendiri…sepi, ga ada yang rutin nanyain kabar tiap hari, hampa…isn’t it? ada yang selalu nyupport lebih dari siapa pun, bahkan keluarga apalagi teman. dia…orang yang paling ngertiin aku…melindungi dan mengarahkanku, mamfasilitasiku [maap ya, kebetulan lagi beruntung, dapet yang lumayan tajir...he...he...he...], yoi…..bisa ketebak deh apa yang anda semua pikirkan. Saat saya di posisi itu, pokoknya berjuta alasan untuk pembenaran manfaat pacaran…yeah…apalagi ortu dah OK, wah…cocok deh…sepertinya dunia ini ga akan pernah berakhir…

    heh…itulah kenapa di awal aku menyebutnya virus merah jambu…!!!
    dia memang layaknya virus yang mengacaukan sistem berpikir normal kita, lihai sekali perasaan itu mempermainkan cara kita menyikapi hidup…

    setelah mengalami “instal ulang”, aku mengukuti diriku sendiri atas kebodohanku dan ke-eror-an ku SELAMA 3 TAHUN, bukan waktu yang sebentar untuk mengecap pahit manis kehidupan bukan? itulah kenapa aku berani angkat bicara di sini…..
    Aku bukan korban selingkuh…tidak,,,pengalamanku tidak setragis itu teman, menurutku bahkan sebuah “akhir yang indah”, memang, di awal masa virus itu coba disingkirkan, sakit,,,rasanya [wajar aja, yang namanya proses penyembuhan menuju kenormalan bukan hal yang mudah, kaya' orang yang kecanduan narkoba gitu deh pas lagi sakau...] tapi, sungguh,,,rasa sakit itu tidak seberapa jika dibandingkan dengan masa-masa pengganti tanpa VMJ yang kulalui sampai detik ini… paling lama sebulan lah ya recovery buat menghapus virus 4 tahun , ga seberapa deh…

    jadi ngerasa sebagai senior nih…melihat ‘anak anak bawang’ angkat bicara tentang apa yang belum pernah kalian lalui sepenuhnya. beberapa aku lihat sudah cukup cerdas memandang case ini, bersyukurlah, kalian berarti sudah punya ANTIVIRUS ini, tapi jangan lupa DIUPDATE ya… buat yang masih kena virus,,,jangan males UP DATE antivirus donk,,,,,

  19. masih tetangga kostan said,

    July 31, 2008 at 10:47 pm

    Buat mengatasi kesepian dan kebutuhan akan pasangan, sekarang aku menemukan solusi yang lebih cerdas…PERNIKAHAN…
    Perhatian teman…automatically bakal kita dapet kalo’ kita juga ngasih perhatian lebih ke temen-temen kita…..Selama kita bareng sama ’seseorang’ kayaknya kita lebih sibuk merhatiin ‘dia’ daripada temen-temen disekitar kita, coba kroscek proporsinya, sudah proposional kah?
    Begitu juga perhatian keluarga…

    Btw, nikah itu kan ga mudah…banyak konsekuensi nya,,,ngomong mah gampang…? Emang, siapa yang bilang nikah itu mudah…
    But, as I know, pernikahan ya satu-satunya hal yang membingkai ‘cinta sesungguhnya’ seperti kebanyakan orang bilang.

    To be continue yah……..

  20. Tetangga Kost donk said,

    August 1, 2008 at 6:14 pm

    Lanjut… (mudah-mudahan ga bosen ngebacanya…kaya’ serial aja nih…)

    di sini saya sungguh ga’ mau sok tahu atau merasa jadi paling tahu di antara yang lain, karena tanpa mencoba pun, temen-temen kalo’ masih mau jujur pasti bisa kok menilai konsep pacaran ini, dari segi apa pun, terutama psikologi atau kejiwaan…

    Zhenkninoughter…?absolutely right…!!!Aku setuju banget maksudnya…Pinter deh…Ciapa ci yang ngajarin…^-^

    Ga salah kok kalo kita, manusia emang udah kodratnya butuh ’seseorang’ yang akan mengisi dan melengkapi hidup kita. Allah nih…Yang Maha Pencipta, Yang Menjadikan kita mengisi kehidupan dunia ini, Yang notabenenya paling tahu sama ciptaan-Nya, bahkan Sangat Menghargai kebersamaan Sepasang insan yang memutuskan untuk menjalin hubungan dengan serius. Yang perlu DIGARISBAWAHI di sini adalah, hubungan itu di jalin dalam bingkai PERNIKAHAN. Dia Paling Tahu bagaimana caranya konsep saling menghargai, saling mengasihi, saling mengisi dan melengkapi yang paling baik untuk kita, yang notabene nya cuma makhluk yang ga’ banyak tahu bahkan tentang diri kita sendiri…apa yang terbaik buat kita…tidak jarang bahkan kita membahayakan diri kita sendiri.

    Kebutuhan yang teman-teman cari di atas sebenarnya sudah terfasilitasi oleh pernikahan kok…yang bahkan dijamin keamanan dan kehalalannya…

    sampai di sini, dipastikan akan muncul pertanyaan baru…

    Lalu, fase kita menuju pernikahan kan butuh masa ‘Penjajakan’ lah, Pengenalan, karena pernikahan sebagai sesuatu yang penting makanya kita harus selektif dan berhati-hati buat milih pasangan hidup kita…Kurang lebih seperti itu pertanyaan yang muncul…

    Sabar ya kawan…di tulisan selanjutnya, kita bahas materi menarik ini, jangan lewatkan tiap episode cerita ini, karena dipastikan ceritanya lebih menarik…See U…

  21. Mega Vionytha said,

    August 3, 2008 at 2:48 pm

    @sugi chou: teh sugi kapan nikahnya? jangan lupa ngundang ya…hehe
    @malinda: lho? koq malah minta traktiran sih, Ki?
    @zhenk ninoughters: thanks a lot zhenk…. kayaknya aku mesti curhat2 lagi kayak dulu…
    @chandra&hilda: brainstorming kln ber2 (ber3 sama mun) kayaknya keren juga. sayang ga bisa ikutan wktu ntuh. tx comment2nya. cukup buat membuka mata….
    @tetangga kost: curhat nih bu? tolong ingetin terus ya hes…

  22. Belum pindah kost kok said,

    August 3, 2008 at 10:02 pm

    Lagi…lagi…ikutan lagi…

    Assalamu’alaikum vi..

    Ini, sebenernya yang punya blog siapa ya? berasa punya sendiri nih…
    Mw nglanjutin yang kemarin, mumpung lagi kepikiran lagi.

    Review : Gimana caranya kita dapat orang yang ‘bener’ buat jadi pasangan hidup kita tanpa pacaran? (asumsi: untuk selamanya)

    Yakin,,,dengan pacaran jadi saling mengenal? Se’dalem’ apa pun hubungannya, wajarnya pacaran itu tetep aja cuma ngasih tau kulitnya aja, aslinya baru ketahuan pas beneran jadi ’suami-istri’, malah tidak sedikit, di depan pacar jadi baik, dibelakang,,, wallahualam ya…Kalo beli barang, andaikata kita ga puas asal ada garansi bisa kita ganti, lha kalo suami/istri? maap ya,,, no warranty.

    Dengan pacaran, kita hanya akan fokus pada satu orang yang kita klaim sendiri nantinya akan menjadi pasangan hidup kita,,,padahal…SIAPA YANG JAMIN ‘dia’ adalah jodoh kita? dalam kondisi kaya’ gitu kita tidak akan objektif, padahal, siapa sih yang ga mau dapet YANG TERBAIK? Kalo udah pacaran, kita ga bisa objektif menilai semua teman-teman lawan jenis kita yang sebenarnya TERBAIK dan sesuai dengan diri kita, tidak menutup kemungkinan, saat lagi pacaran kita baru dipertemukan dengan sosok yang ternyata selama ini kita cari kan? Hayo…Ntar nyesel lho…ada barang bagus disia-siain…ntar diambil orang deh… Atau kalian punya cara lebih jitu? Mungkin dengan tanpa ba-bi-bu langsung mutusin pacarnya?Gitu aja kok repot…Kalo anda yang di posisi ‘ditinggalin’, Are U Ready?

    Cara cerdas mencari pasangan hidup tanpa kita menyakiti diri sendiri dan orang lain di dunia akhirat ya dengan kenalan lebih jauh donk…Kenalan lebih mendalam ini dilakuin tentu aja pas kita memang sudah siap menikah, bukan main-main. Tanya-tanya sama orang-orang terdekatnya, lihat teman-temannya dan lingkungan pergaulannya, tentang keluarga, tanyain langsung ke yang bersangkutan,,,jangan mau kecolongan sama setan, tanya/cari infonya juga jangan jadi berdua-duaan…selain menghindari fitnah, kan orang ketiga juga bikin segan kalo’
    mau bohong atau membual ngasih informasi ga’ jujur. fakta membuktikan,,,pernikahan yang terjadi dari proses seperti itu lebih kuat mengarungi bahtera rumah tangga, daripada artis-artis yang sudah gonta-ganti pacar sekian kali sebelum nikah, ujung-ujungnya ke Pengadilan Agama juga buat Cerai…
    ‘kalo’ artis mah buat main-main aja, beda sama saya, yang emang serius cari pasangan hidup’ Kalo memang begitu alasan anda, kalo sudah merasa cocok, tunggu apa lagi, kenapa tidak segera dihalalkan saja hubungan itu?

    Kan masih mau kuliah, masih mau meniti karir, dan masih muda…

    itu berarti anda belum siap untuk menikah.

    Merasa belum siap menikah? “Buah yang dipetik dari pohon sebelum ranum dan matang, rasanya akan asam dan dan ga’ enak dimakan”
    Kalau Anda belum merasa matang, kenapa tidak lebih fokus untuk persiapkan diri anda menjadi semakin matang, sehingga masa itu lebih cepat datang…
    Kalo pacaran,,,bisa dimisalkan buah muda yang mateng karena karbitan, hasilnya,,,? jangan ditanya…tidak memuaskan

    Dapet pandangan baru ni…

    Kalo pacaran,,,mereka justru menunjukkan bahwa mereka belum siap menikah tapi mereka juga tidak mau menyadari keterbatasan mereka itu, untuk menunggu sampai masa itu tiba… Semakin kelihatan kan siapa mereka sebenarnya?

    Mereka mengagungkan kesetiaan, tapi mereka tidak setia menunggu pilihan-Nya tiba.

    Mereka mengagungkan Cinta, tetapi mereka justru paling tidak mengetahui bagaimana menghargai kesucian cinta.

    Mereka merasa dewasa, tapi justru semakin menunjukkan ‘kekanak-kanakan’ nya mereka.

    Untuk diriku sendiri dan Orang-orang disekitarku yang kusayangi…

    Semoga Allah menguatkan kita untuk setia pada Janji-Nya, menuju definisi Cinta yang sesungguhnya dalam Kedewasaan pola pikir, sikap dan perilaku kita…memegang PRINSIP hidup sesuai tuntunan-Nya, karena kita hanyalah Hamba Sahaya di Dunia yang tengah mencari kemerdekaan dari Tuan di negeri Akhirat…

    Sampai Ketemu di pembahasan yang lebih menarik lagi…Barakallahu ya akhi ya ukhti…Luv U cos Allah…^-^

  23. August 3, 2008 at 10:04 pm

    hmmm…. kok malah jadi pada nge-blog di comment ya ? :-)

    wah, hil,,, lagi perang di dunia maya ya?
    truz, tetangga kost-an, eh,,, tetangga kamar maksudnya,
    jangan lupa kasih alamat update antivirus-nya,
    biar pada ga’ nyasar nge-download-nya,,,

    ehm,,, kok si ‘cnowi’ ga’ ikutan lagi? ^_^
    padahal ada yg mau dikonfirm niy…
    ttg kalimat
    “gue yakin meskipun banyak org kontra pacaran, tapi sebenernya mereka kesepian dlm idealisme prinsip mereka sendiri……dan tu bahaya buat kehidupannya sendiri, gmn bahayanya? coba lo cari tw sendiri..pasti nemuin!”

    ehm…ehm… mb cnow (ikutan vivicute), dapet asumsi dari mana tuh? udah coba diteliti dulu? atau jangan2 hanya pendapat pribadi aja?
    wah,, wah,, kalo’ kaya’ gitu adanya, perlu dilurusin nih…

    atau,
    kalo’ mb cnow pernah nantangin untuk mencoba berperan sbgai orang yg b’pacaran,
    kenapa mb’ cnow ga’ nyoba dulu untuk memerankan orang yang GA PACARAN?
    udah pernah belum? ;-)

    wah, dijamin deh,,,
    rasanya lebih nyaman ketika sedang ada pacar,,,
    ga’ percaya?
    coba aja buktiin ^_^

    mb’ cnow, memang, pasti ada saat2 tertentu di mana kita ngerasa sendiri, BENER-BENER-SENDIRI-… rasanya tuh kaya’ ga ada lagi orang yg merhatiin kita,,,
    keluarga ga’ perhatian, sahabat sendiri malah lagi sibuk sama urusannya, temen2 pada ga’ ngeh,,,
    wah, kalo’ lagi kaya’ gini pasti langsung kepikiran sama si yayang, iya kan?
    ok,,, saya juga ga’ menampik hal itu kalo’ tiba2 saya juga lagi didera perasaan kaya’ gitu,,,
    TAPI, ya kalo’ pacar kita langsung kasih perhatiannya ke kita,
    lha kalo’ dia malah lagi sibuk sama urusannya dia juga?
    ck..ck..ck… kalo’ dah kaya’ gitu gimana coba?

    itu berarti, teori SEORANG-PACAR-BISA-JADI-SOSOK-YANG-BISA-NGERTIIN-DAN-BISA-NGONTROL-DIRI-
    jadi ancur dunkz…

    mau nyoba yg lebih kekal?
    ada bih,
    bukan teori lagi,,,
    tapi sudah faktanya ber-abad2 lamanya…

    lain kali,
    kalo’ lagi ngerasa sendiri,
    lagi ngerasa ga’ ada lagi yg merhatiin kita,,,
    inget,
    ada yg tetep tanpa henti memerhatiin kita,
    tanpa lelah mengawasi setiap langkah kita,,,
    dan ga’ pernah ninggalin kita SEDETIK pun…

    TINGGAL DARI DIRI KITANYA NIH MAU NYAMPERIN ATAU MALAH MAU LARI,,,

    ya, DIA adalah Sang Pencipta kita,
    Rabb Semesta Alam…

    bahkan ’sehebat’ apapun pacar kita,
    pasti ga’ ada setitik debupun deh dibandingkan Sang Maha Pencinta,,,

    masih ga’ percaya mb cnowi?
    :-)
    silakan buktikan sendiri ya,,,

    bwt mas candra,
    saya setuju sama hilda tuh mas…

    “Tp untuk seseorang yang mempunyai karakter keras,suka marah,bila bicara suka negative thinking tehadap orang lain wah… yang beginini… yang wajib pacaran… Biar dia cepet gede (dewasa dlm menghargai orang lain) ya ga cuy….????”

    dari mana landasannya bisa ngasih pendapat kaya’ gitu?
    ok…ok… mungkin aja dia bakal DEWASA ataw BERUBAH,
    tapi biasanya hanya SEBATAS DENGAN PACARNYA aja,,,
    kalo’ sama orang lain juga paling2 ga’ banyak berubah…

    pacaran itu bukan segala-galanya lho… :-)

    wahh,,, wah,,,
    laris manis nih blog-nya…

    semangat berkarya ya bu^_^

    NB: tetangga kost-an bikin rubrik curhat aja bu,
    pasti bermanfaat buat banyak orang deh :-)

  24. August 3, 2008 at 10:17 pm

    RALAT…
    RALAT….
    R…..A…….L……A……T…..!!!!

    “wah, dijamin deh,,,
    rasanya lebih nyaman ketika sedang ada pacar,,,
    ga’ percaya?
    coba aja buktiin ^_^”

    maksudnya mau nulis: ” lebih nyaman ketika sedang TIDAK ADA pacar,,,”
    gitu….

    RALAT INI HARUS DIBACA YA,,,
    BIAR GA’ SALAH PAHAM ;-)

  25. Mega Vionytha said,

    August 4, 2008 at 2:18 pm

    @tetangga kost & zhenk:
    wa’alaikumsalam, teman… pake nama yang sama aja ya, biar langsung ke-approve…
    wuah….blognya jadi seru….

  26. hilda said,

    August 4, 2008 at 2:36 pm

    aduh,,capek bacanya
    uhuuuu…

  27. Mega Vionytha said,

    August 4, 2008 at 2:44 pm

    @hilda:
    banyak yak…

  28. me said,

    August 4, 2008 at 3:10 pm

    jangankan pacaran..nikah aja aku lagi ga mood :P
    hehe..


Post a Comment