-Be-

(270708)

Hari ini saya dapet satu pandangan berbeda lagi yang kalau saya mau, saya bisa katakana sebagai ‘sebuah padangan yang aneh’. Well, tapi walaupun begitu, saya pengen mencoba menelaah dulu pandangan yang satu ini. Kira-kira begini bunyinya…

‘Pacaran itu bisa mengubah karakter seseorang. Bisa membuat orang itu belajar untuk menghargai orang lain.’

Well, saya setuju sampai bagian ‘mengubah karakter seseorang’ itu. Karena, yeah, dari beberapa orang yang saya kenal sebelum pacaran dan kemudian mereka tiba-tiba pacaran, saya memang menemukan beberapa perubahan. Sangat significant malah. Seperti: mereka tiba-tiba pandai membagi waktu. Tapi sayangnya, pembagiannya saya pikir sangat tidak proporsional. Yeha, mungkin proporsi ‘bersenang-senang’ dengan the beloved one-nya tidak banyak banyak amat. Tapi proporsi waktu yang dipergunakan untuk memikirkan si the beloved one-nya sepertinya menjadi sangat dominan. Bagi saya, hal ini bakal jadi sesuatu yang sangat cukup untuk menjadi barrier untuk melakukan sesuatu. Entahlah bagi yang lain. Teman saya juga pernah berkata bahwa satu orang tidak mungkin memiliki dua tuan. Orang yang pacaran tidak mungkin berhasil membagi waktunya secara merata bagi kegiatan pacarannya, kegiatan sosialisasinya dengan teman-temannya, dan kegiatan serius yang benar-benar dibutuhkannya. Jadi tentu saja orang yang mulai pacaran akan segera mendapati perubahan-perubahan pada dirinya.

Sekarang kita beralih ke bagian ‘belajar menghargai orang lain’. Saya masih bisa menerima kalau pandangan ini berlaku bagi beberapa orang. Harap diperhatikan juga garis bawah pada kata ‘beberapa orang’. Tanya kenapa? Karena beberapa orang lain yang sudah pernah atau sedang pacaran terbukti dengan suksesnya mampu menumbuhkan keinginan saya kembali untuk berlatih kick boxing (Tahu kan, sport seperti boxing tapi memperbolehkan kicking. Dan kick boxing itu seru banget buat pelampiasan amarah.). Yeah, bisa jadi sih pada saat itu saya memang sedang terlalu sensitive atau mungkin PMS. Tapi sejauh yang saya perhatikan, orang-orang yang sedang pacaran malah terlalu memprioritaskan sang pacar. Mungkin mereka memang belajar menghargai orang lain. Tapi orang lain tersebut tidak lain dan tidak bukan hanyalah sang pacar seorang. Memang teman saya (yang berbeda dengan yang memberi pendapat sebelumnya) pernah berkata bahwa ketika orang yang sedang pacaran mampu menghargai pacarnya, hal ini akan menjadi kebiasaan baginya dan mungkin bisa diterapkan di lingkungannya sehari-hari. Jadi kenapa saya masih memperdebatkan hal ini? Karena berdasarkan pengalaman saya, ketika sang pacar tersebut membutuhkan sesuatu, maka kebanyakan orang akan berusaha memenuhinya walaupun salah satu konsekuensinya adalah merugikan orang lain. Di situlah letak kelemahan pacaran dan keterkaitannya dengan proses menghargai orang lain. Harap diingat bahwa orang lain di dunia ini tidak hanya satu, tapi banyak!

Mungkin ini ada kaitannya dengan pepatah ‘banyak jalan menuju Roma’. Sebab menurut pendapat saya sendiri, mampu tidaknya seseorang menghargai orang lain justru bergantung pada sejauh apa orang tersebut berhasil memahami diri sendiri dan sejauh apa dia berusaha untuk memahami berbagai perilaku dan pola pikir orang lain. Sementara selama pacaran, seseorang hanya (mungkin, kalau dia berusaha) akan memahami satu pola pikir dan perilaku tertentu. Masa harus pacaran dengan banyak orang dulu untuk memahami berbagai pola pikir mereka?

Beberapa orang juga pernah berkata bahwa pacaran itu bisa mendewasakan seseorang. Tapi…masa harus pacaran dulu baru bisa dewasa? Akhwat dan ikhwan yang tidak pernah pacaran saja toh bisa dewasa dan menghargai orang lain. Paus dan suster juga tentunya tidak pacaran, kan? Tapi mereka mereka ini, bisa dikatakan, justru lebih dewasa dan lebih mampu menghargai orang lain daripada kebanyakan orang. Iya kan? Kedewasaan sebenarnya tumbuh ketika seseorang sudah berkeinginan untuk menjadi dewasa. Ketika seseorang sudah bisa memaksa dirinya untuk berani melakukan sesuatu yang berbeda dan berani menata pikirannya, membedakan mana yang penting dan mana yang tidak. Kedewasaan sebenarnya bisa muncul ketika seseorang berusaha memahami dunia sekitarnya dan dunia secara keseluruhan dengan sadar. Jadi, tanpa pacaran pun bisa kan? Dengan mengamati mungkin, atau membaca berbagai buku yang cukup ‘berisi’, atau mungkin membantu banyak orang untuk memecahkan persoalannya.

Beberapa orang mungkin mulai berpikir bahwa pada akhirnya, semua orang akan hidup berdua. Tapi yang perlu disoroti lagi adalah ketika dua orang telah menikah, dunia yang dihadapinya sudah berbeda karena ikatan yang ada adalah ikatan yang semua orang mengakuinya. Sebenarnya intinya di sini bukanlah bahwa saya kontra seratus persen terhadap pacaran. Sama sekali bukan walaupun, yeah, perasaan kontra tersebut masih tertanam dalam diri saya beberapa puluh persennya. Yang ingin saya pertegas di sini adalah bahwa pacaran bukanlah cara untuk mencapai aktualisasi diri. Pacaran justru terkadang bisa membuat orang semakin jauh dari aktualisasi diri tersebut. Jadi bagi orang-orang yang merasa masih pacaran, coba introspeksi diri anda. Apakah pacaran sudah merupakan pilihan yang tepat bagi diri dan hidup anda?