Ada yang ngerasa kalau ini pertanyaan bodoh? Yeah, awalnya juga gw ngerasa gitu. Tapi kalo dipikir-pikir lagi nih yah, pertanyaan ini lumayan pantes diajukan di jaman sekarang ini. kenapa? Soalnya, koq makin lama partai juga makin banyak? Kalau partai makin banyak, artinya makin banyak juga orang yang berminat ngajuin diri buat jadi calon pemimpin bangsa. Bukannya nggak seneng nih. Seneng sih banyak orang yang mau ngurusin negara. Tapi dari sini keliatan kalau orang Indonesia jaman sekarang udah banyak yang pede, ngerasa bisa buat ngurusin negara segede ini. Trus, kenapa juga gw ngajuin pertanyaan kayak judul di atas? Yah, soalnya gw inget, sebenernya diingetin lagi sama pak Banu di kelas eksyar, kalau tiap pemimpin itu pasti dimintai pertanggungjawaban di akhirat nanti tentang tiap-tiap makhluk yang dipimpinnya. Coba aja bayangin penduduk Indonesia sekarang ada berapa ratus juta. Kalau orang-orang yang ngajuin diri jadi presiden Indonesia sekarang mikirin statement tentang pertanggungjawaban tadi, trus mikirin jumlah penduduk Indonesia, pasti Cuma sedikit yang menyanggupi buat jadi presiden. Atau jangan-jangan malah nggak ada yang berani. Soalnya nih ya, masalah di Indonesia tuh lagi banyak banyaknya. Iya nggak sih? Jangankan merhatiin masalah perorangan, masalah di pemerintahan, masalah ekonomi, dan masih banyak masalah lain dari dulu nggak juga selesai. Padahal, nantinya tiap pemimpin bakalan ditanyain nasib orang-orang yang dipimpinnya dalam konteks perorangan. Tiap pemimpin harus bertanggungjawab terhadap kesejahteraan setiap kepala yang dipimpinnya. Inget kisahnya Umar r.a. waktu jadi khalifah kan? Yang tiap malam keliling kampung buat ngeliat nasib rakyatnya. Kalau ada rakyat yang kekurangan beras, beliau pulang ke rumah, trus ngebawain beras buat rakyatnya itu. Pokoknya beliau tuh ngejaga ga boleh sampai ada rakyatnya yang nggak sejahtera. Kalau dibawa ke konteks Indonesia, sanggup nggak calon-calon presiden kita ini nantinya berbuat begitu? Yah, nggak mesti keliling Indonesia setiap malam juga. Gempor juga kalau gitu caranya. Yah, beresin dulu tuh birokrasinya sampai bener-bener beres. Nah lho, masalah di birokrasi aja masih banyak banget gitu. Gimana masalah di seluruh Indonesia yak? Yah, yang gw harap di sini, dan pastinya semua rakyat Indonesia harap di sini, berhubung sekarang lagi musim-musimnya pemilu, mudah-mudahan presiden dan pemimpin-pemimpin plus perwakilan rakyat yang terpilih nantinya bisa bener-bener ngerubah Indonesia jadi lebih baik lagi. Atau setidaknya beberapa steps closer kepada penyelesaian seluruh masalah di Indonesia sekarang ini yang udah kayak benang kusut. Amin…
Emang Jadi Presiden Gampang Yak???
Posted in A little Story about 'Life'
All Dreams Will Come True
Semua orang punya mimpi. Salah… semua orang HARUS punya mimpi!!! Kalo nggak, orang itu nggak lebih dari seonggok daging yang bisa jalan-jalan doank. Gw baru aja belajar hal ini. Baru aja sadar kalau selama ini gw cuma hidup mengikuti arus. Untung aja selama ini arus yang gw temui adalah arus yang ngebawa gw ke arah yang lebih baik. Yeah, selama ini gw Cuma beruntung saja. Nggak lebih. Iya sih, gw tipe orang melankolis koleris dengan perbandingan seimbang sempurna. Iya sih, gw punya target setiap harinya dan rapih banget dalam mengorganisir. Tapi gw masih belum punya mimpi. Bahkan kadang gw masih takut untuk bermimpi dan keluar dari zona nyaman gw. Kenapa bisa gini? Gw coba jawab sendiri… dan jawaban yang muncul di pikiran gw adalah ‘mungkin gw masih terlalu sayang sama diri gw sendiri’. Mungkin banyak jawaban-jawaban lain yang bikin gw masih takut untuk bermimpi. Tapi hal yang paling dominan yah mungkin itu tadi, terlalu sayang sama diri sendiri. Jadi yang perlu gw lakuin, dan teman-teman yang ngebaca tulisan gw dan ngerasa sama kayak gw, adalah menanamkan dalam diri sendiri bahwa:
1. Jangan takut bermimpi. Masa depan memang nggak ada yang tau. Tapi kalau kita punya mimpi, kita bisa tau ke mana kita harus melangkah. Kayak di hutan nih, kalau kita tau kita mau ke barat, kita tinggal ngeliat kompas dan mulai membuka jalan ke tujuan kita itu. Bukannya keliling-keliling hutan dan akhirnya malah tersesat.
2. Zona nyaman yang ada sekarang ini sifatnya cuma temporer, nggak kekal. Lagi pula, siapa yang tau kalau di luar sana ternyata masih banyak hal yang lebih seru dan menyenangkan daripada di dalam zona nyaman. Nggak ada yang bakal tau kalau nggak mencoba keluar sendiri dari zona nyaman itu.
3. Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lain. Egoisme terkadang memang membawa manusia ke kesuksesan. Tapi konsekuensinya adalah dia jadi nggak punya temen sejati.
4. Ukuran sukses bukanlah nggak pernah jatuh, tapi gimana caranya segera bangkit lagi setelah jatuh. (Our greatest glory is not in never falling, but in rising every time we fall – Confucius)
5. Whether you believe you can or whether you believe you can’t, you’re absolutely right. (Henry Ford). Jadi tinggal pilih kan, mau berpikiran positif atau negatif?
Mudah-mudahan semuanya belum terlambat, yah… By the way, ada yang mau nambahin quotes lagi nggak nih?
Posted in A little Story about 'Life'
-Be-
(270708)
Hari ini saya dapet satu pandangan berbeda lagi yang kalau saya mau, saya bisa katakana sebagai ‘sebuah padangan yang aneh’. Well, tapi walaupun begitu, saya pengen mencoba menelaah dulu pandangan yang satu ini. Kira-kira begini bunyinya…
‘Pacaran itu bisa mengubah karakter seseorang. Bisa membuat orang itu belajar untuk menghargai orang lain.’
Well, saya setuju sampai bagian ‘mengubah karakter seseorang’ itu. Karena, yeah, dari beberapa orang yang saya kenal sebelum pacaran dan kemudian mereka tiba-tiba pacaran, saya memang menemukan beberapa perubahan. Sangat significant malah. Seperti: mereka tiba-tiba pandai membagi waktu. Tapi sayangnya, pembagiannya saya pikir sangat tidak proporsional. Yeha, mungkin proporsi ‘bersenang-senang’ dengan the beloved one-nya tidak banyak banyak amat. Tapi proporsi waktu yang dipergunakan untuk memikirkan si the beloved one-nya sepertinya menjadi sangat dominan. Bagi saya, hal ini bakal jadi sesuatu yang sangat cukup untuk menjadi barrier untuk melakukan sesuatu. Entahlah bagi yang lain. Teman saya juga pernah berkata bahwa satu orang tidak mungkin memiliki dua tuan. Orang yang pacaran tidak mungkin berhasil membagi waktunya secara merata bagi kegiatan pacarannya, kegiatan sosialisasinya dengan teman-temannya, dan kegiatan serius yang benar-benar dibutuhkannya. Jadi tentu saja orang yang mulai pacaran akan segera mendapati perubahan-perubahan pada dirinya.
Sekarang kita beralih ke bagian ‘belajar menghargai orang lain’. Saya masih bisa menerima kalau pandangan ini berlaku bagi beberapa orang. Harap diperhatikan juga garis bawah pada kata ‘beberapa orang’. Tanya kenapa? Karena beberapa orang lain yang sudah pernah atau sedang pacaran terbukti dengan suksesnya mampu menumbuhkan keinginan saya kembali untuk berlatih kick boxing (Tahu kan, sport seperti boxing tapi memperbolehkan kicking. Dan kick boxing itu seru banget buat pelampiasan amarah.). Yeah, bisa jadi sih pada saat itu saya memang sedang terlalu sensitive atau mungkin PMS. Tapi sejauh yang saya perhatikan, orang-orang yang sedang pacaran malah terlalu memprioritaskan sang pacar. Mungkin mereka memang belajar menghargai orang lain. Tapi orang lain tersebut tidak lain dan tidak bukan hanyalah sang pacar seorang. Memang teman saya (yang berbeda dengan yang memberi pendapat sebelumnya) pernah berkata bahwa ketika orang yang sedang pacaran mampu menghargai pacarnya, hal ini akan menjadi kebiasaan baginya dan mungkin bisa diterapkan di lingkungannya sehari-hari. Jadi kenapa saya masih memperdebatkan hal ini? Karena berdasarkan pengalaman saya, ketika sang pacar tersebut membutuhkan sesuatu, maka kebanyakan orang akan berusaha memenuhinya walaupun salah satu konsekuensinya adalah merugikan orang lain. Di situlah letak kelemahan pacaran dan keterkaitannya dengan proses menghargai orang lain. Harap diingat bahwa orang lain di dunia ini tidak hanya satu, tapi banyak!
Mungkin ini ada kaitannya dengan pepatah ‘banyak jalan menuju Roma’. Sebab menurut pendapat saya sendiri, mampu tidaknya seseorang menghargai orang lain justru bergantung pada sejauh apa orang tersebut berhasil memahami diri sendiri dan sejauh apa dia berusaha untuk memahami berbagai perilaku dan pola pikir orang lain. Sementara selama pacaran, seseorang hanya (mungkin, kalau dia berusaha) akan memahami satu pola pikir dan perilaku tertentu. Masa harus pacaran dengan banyak orang dulu untuk memahami berbagai pola pikir mereka?
Beberapa orang juga pernah berkata bahwa pacaran itu bisa mendewasakan seseorang. Tapi…masa harus pacaran dulu baru bisa dewasa? Akhwat dan ikhwan yang tidak pernah pacaran saja toh bisa dewasa dan menghargai orang lain. Paus dan suster juga tentunya tidak pacaran, kan? Tapi mereka mereka ini, bisa dikatakan, justru lebih dewasa dan lebih mampu menghargai orang lain daripada kebanyakan orang. Iya kan? Kedewasaan sebenarnya tumbuh ketika seseorang sudah berkeinginan untuk menjadi dewasa. Ketika seseorang sudah bisa memaksa dirinya untuk berani melakukan sesuatu yang berbeda dan berani menata pikirannya, membedakan mana yang penting dan mana yang tidak. Kedewasaan sebenarnya bisa muncul ketika seseorang berusaha memahami dunia sekitarnya dan dunia secara keseluruhan dengan sadar. Jadi, tanpa pacaran pun bisa kan? Dengan mengamati mungkin, atau membaca berbagai buku yang cukup ‘berisi’, atau mungkin membantu banyak orang untuk memecahkan persoalannya.
Beberapa orang mungkin mulai berpikir bahwa pada akhirnya, semua orang akan hidup berdua. Tapi yang perlu disoroti lagi adalah ketika dua orang telah menikah, dunia yang dihadapinya sudah berbeda karena ikatan yang ada adalah ikatan yang semua orang mengakuinya. Sebenarnya intinya di sini bukanlah bahwa saya kontra seratus persen terhadap pacaran. Sama sekali bukan walaupun, yeah, perasaan kontra tersebut masih tertanam dalam diri saya beberapa puluh persennya. Yang ingin saya pertegas di sini adalah bahwa pacaran bukanlah cara untuk mencapai aktualisasi diri. Pacaran justru terkadang bisa membuat orang semakin jauh dari aktualisasi diri tersebut. Jadi bagi orang-orang yang merasa masih pacaran, coba introspeksi diri anda. Apakah pacaran sudah merupakan pilihan yang tepat bagi diri dan hidup anda?
Posted in A little Story about 'Life'
Dan Brown
Pfiuh…..
UAS selese juga. yah, walaupun belom bisa dibilang tenang (masih nungguin nilai yang entah gimana nasibnya), tapi setidaknya jam tidur gw udah mulai normal lagi. Dan yang paling penting adalah….gw bisa menikmati hidup lagi (hehe….)
Akhirnya gw bisa nyentuh Angels n Demons yang udah gw tinggal bertahun2…(lebay…) Ada yang kepengen baca thrillernya Dan Brown? Just click–> http://www.esnips.com/web/niyviony-DanBrown
happy reading….
Posted in my life
Hello world!
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!
Posted in Uncategorized

